Sabtu, 14 Mei 2011

Nani and Friends

Empowering Women Head of Households

Perempuan dalam segala aspek kehidupan memiliki peranan yang sangat penting. Seorang perempuan yang menyandang status janda kerap kali harus menjalani kehidupan yang lebih berat. Selain status janda yang disandangnya, menjadi kepala keluarga untuk memenuhi kebutuhan keluarga pun harus dijalani. Persoalan ini mengusik batin seorang Nani Zulminarni. Atas dasar itulah wanita yang lebih dari 22 tahun bekerja mengorganisasi perempuan di akar rumput tergerak untuk melakukan pemberdayaan pada para janda dengan mendirikan sebuah organisasi.
Pemberdayaan Perempuan Kepala Keluarga (PEKKA) merupakan sebuah lembaga pemberdayaan kepala keluarga perempuan yang didirikan Nani untuk mengentaskan masalah kaum janda dengan berbagai program seperti pemberdayaan ekonomi melalui pengembangan kegiatan simpan pinjam dan usaha kecil mikro, pemberdayaan hukum, pemberdayaan politik pendidikan sepanjang hayat dan pengembangan media komunitas. Bersama PEKKA, Nani berupaya mendorong para perempuan kepala keluarga untuk mengelola secara swadana dan swadaya sumberdaya mereka. PEKKA yang memasuki usia kesembilan pada tahun ini juga mendorong para perempuan kepala keluarga untuk menyuarakan hak-hak mereka. Salah satu hasilnya ratusan janda di berbagai provinsi mendapatkan akta cerai untuk dirinya dan akte kelahiran untuk anak-anak mereka, dan beberapa kader Pekka bahkan menjadi caleg pemilu 2009.
Dalam menjalankan PEKKA, Nani menaruh perhatian khusus dalam membangun rasa percaya diri para janda ini. Organisasi yang didirikan tahun 2001 ini berupaya menyadarkan para anggota PEKKA akan harkat perempuan, dan bahwa status janda tidak seharusnya menghambat mereka untuk menjadi perempuan mandiri dan bermartabat. Menurut Nani, saat kepercayaan diri para janda itu bangkit, otomatis lebih mudah bagi mereka itu untuk melihat masa depan mereka.
Kesuksesan Nani menjalankan PEKKA bukan tanpa halangan. Sebagai janda Nani menghadapi pandangan negatif orang dan sebagai orang tua tunggal Nani dituntut memberikan perhatian penuh pada para ketiga anak lelakinya, sementara pekerjaan di PEKKA juga yang bersinggungan dengan permasalahan janda yang sering mempengaruhinya secara psikologis dan emosional. Selain itu tidak mudah mendorong para janda miskin untuk mulai kegiatan dengan menabung. Namun dengan keuletannya mengembangkan organisasi ini, PEKKA kini telah berhasil menghimpun lebih dari 425 lebih Kelompok Simpan Pinjam di delapan provinsi di seluruh Indonesia. Hampir sepuluh ribu janda dan kepala keluarga perempuan, dengan 28 Lembaga Keuangan Mikro dan lebih dari 500 perempuan pemimpin basis menjadi anggotanya.
Perjuangan Nani bersama PEKKA juga membawanya menjadi satu dari 1000 perempuan yang layak menjadi kandidat peraih penghargaan Nobel. Disamping itu wanita yang juga menjadi dewan pembina Pusat Pengembangan Sumberdaya Wanita (PPSW) dan sebagai salah seorang pendiri Asosiasi Pendamping Perempuan Usaha Kecil (ASSPUK), dan memperoleh penghargaan sebagai inovator dari Ashoka Global.
Di tingkat internasional Nani juga aktif sebagai anggota dewan eksekutif Asian South Pasific Bureau for Adult Education (ASPBAE), Ketua Komite eksekutif South East Asia Popular Communication Programmes (SEAPCP). anggota Just Associate (JASS) sebuah jaringan aktivis perempuan Internasional berkantor pusat di Washington dan anggota Social Watch Network, yang bertugas dan memonitor berbagai program Penanggulan kemiskinan yang dijalankan di negara asal anggota
Dengan pencapaian yang diperoleh wanita asal Ketapang, Kalimantan Barat, dalam pemberdayaan perempuan, masih ada asa yang tertinggal. Nani masih menyimpan keinginan terdalam untuk dapat melembagakan upaya pemberdayaan pada para janda ini, sehingga ada pusat-pusat belajar bagi perempuan kepala keluarga di kampung-kampung seluruh Indonesia. Saat ini telah mulai berdiri sekitar 25 pusat belajar PEKKA di 8 provinsi. Semua itu diupayakannya demi meningkatkan harkat dan martabat para janda